Tentang Kebudayaan

Kebudayaan

Kebudayaan adalah merupakan seluruh nilai material dan spiritual yang diciptakan atau sedang diciptakan oleh masyarakat selama sejarah.

Kebudayaan semula berarti pengolahan dan pengembangan kemampuan-kemampuan manusiawi yang melampaui keadaan alamiah semata (kebudayaan sebagai pendidikan rohani). Dunia kuno dan Abad Pertengahan menyebut ini sebagai humanitas, serta civilitas. Dalam abad ke-17 dan ke-18 konsep kebudayaan diperluas.

Pada saat ini kebudayaan dipakai untuk mengartikan apa yang manusia tambahkan pada alam, entah di dalam dirinya sendiri ataupun dalam obyek-obyek lain (kebudayaan sebagai jumlah keseluruhan benda-benda kebudayaan). Dengan demikian, kalau alam menandakan apa yang lahir bersama manusia dan apa yang ada di luar dirinya tanpa kerja samanya, kebudayaan mencakup segala sesuatu yang merupakan akibat dari aktivitas manusia yang sadar dan bebas.

Bagaimanapun majunya manusia dalam mengembangkan suatu kebudayaan namun pada akhirnya tetap berakar dalam alam. Kebudayaan menemukan tujuannya yang tepat dalam kepenuhan dan kesempurnaan kodrat manusia. Sementara itu, alam merupakan determinan hakiki bagi arah dan luasnya aktivitas kebudayaan. Suatu perkembangan kultural yang bertentangan dengan hakikat manusia, tidak benar, tetapi semata-mata merupakan kebudayaan yang salah.

Istilah kebudayaan adakalanya digunakan untuk merangkum seluruh ungkapan kreatif manusia dalam semua bidang usahanya. Kadang kebudayaan dibatasi pada ungkapan kreatif dalam bidang artes liberales (pengetahuan humaniora). Dalam arti kedua, istilah ini kadang kala diperluas ke pengembangan kepribadian. Walaupun istilah itu digunakan baru abad ke-18, terdapat anteseden-antesedennya pada zaman Yunani.

Pembedaan Kebudayaan

Tergantung apakah aktivitas kultural tertentu terarah langsung atau tidak pada pribadi manusia dan kesempurnaannya, atau pada obyek-obyek yang ada secara independen darinya. Maka dibuat suatu pembedaan antara kebudayaan personal (seperti bahasa, ras, nilai, kehidupan komunitas, ilmu, moralitas, agama) dan kebudayaan material (seperti teknologi, seni).

Meskipun begitu, sebagian besar aktivitas budaya sesungguhnya mencakup dalam kedua bidang tersebut. Sementara kebudayaan dalam arti yang lebih luas mencakup baik moralitas maupun agama. Dalam arti yang lebih sempit ia berpijak pada keduanya. Dan kemudian kebudayaan menunjuk perkembangan budaya yang terarah kepada tujuan-tujuan di dunia ini.

Kebudayaan yang semata-mata material serta eksternal disebut (paling sedikit di Jerman) sebagai peradaban (sivilisasi). Ia berfungsi sebagai landasan kebudayaan rohani, internal. Sejauh peradaban dikembangkan dengan mengorbankan kebudayaan batin, peradaban belum merupakan kebudayaan sepenuhnya dan sesungguhnya bertentangan dengan kebudayaan sejati.

Perlu juga dicatat bahwa hanya benda-benda kebudayaan eksternal dapat diwariskan. Benda-benda budaya ideal dan personal harus diperoleh secara baru oleh setiap generasi. Pemilikan kebudayaan hanya dapat diperoleh sebagai hasil dari uasaha keras. Namun, waktu senggang juga sangat perlu bagi perkembangan umum daya manusia. Waktu senggang jauh lebih dari sekadar waktu bebas belaka.

Waktu bebas ialah waktu yang dibiarkan berlalu tanpa kerja dan tanpa hambatan. Selanjutnya waktu senggang mengandalkan bahwa kebutuhan-kebutuhan material-pokok dari manusia diperhatikan. Atau, sejauh ini mungkin, waktu senggang mengandalkan manusia secara bebas menentukan untuk tidak memuaskan beberapa diantara kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Sumber: http://filsafat.kompasiana.com/2011/12/09/tentang-kebudayaan-bagian-pertama/

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: